oleh: Hairul semester vi (mpi)
Proposal
Skripsi Fakultas Tarbiyah (PAI):
Metode Pembelajaran Baca Tulis Al Quran di
SD xxxx Boe Selatan
A. Latar Belakang Masalah
Dalam Al-Qur’an dan hadits Nabi SAW dinyatakan
bahwa agama (tauhid/keimanan kepada Allah SWT) merupakan suatu fitrah atau
potensi dasar manusia (anak). Sedangkan tugas pendidik adalah mengembangkan dan
membantu tumbuh kembangnya fitrah tersebut pada manusia (anak). Sesuai dengan
firman Allah SWT dalam surat Ar Ruum ayat 30, yang artinya:
”Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada
agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang Telah menciptakan manusia
menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang
lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.
Al-Qur’an adalah kalam Allah SWT yang
diturunkan (diwahyukan) kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantaraan malaikat
Jibril, yang merupakan mukjizat, yang diriwayatkan secara mutawtir, yang
ditulis di mushaf, dan membacanya adalah ibadah.
Al Qur’an ialah Kitab Suci yang merupakan
sumber utama dan pertama ajaran Islam, menjadi petunjuk kehidupan umat manusia
diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad S.a.w. sebagai salah satu rahmat yang tak
ada taranya bagi alam semesta. Di dalamnya terkumpul wahyu Ilahi yang menjadi
petunjuk, pedoman dan pelajaran bagi siapa yang mempercayai serta
mengamalkannya. Karena itu setiap orang yang mempercayai Al Qur’an, akan
bertambah cinta kepadanya, cinta untuk membacanya, untuk mempelajarinya dan
memahaminya serta mengamalkan dan mengajarkannya.
Al Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad
s.a.w. sekian abad yang lalu. Persoalan yang muncul dan menjadi rumit ketika
jarak waktu, tempat, budaya antara pembaca dan teks demikian jauh. Al Qur’an
yang diturunkan di Arab dan berbahasa Arab akan berbeda ditangkap oleh umat
muslim bangsa Indonesia secara kultur. Akan tetapi, Al Qur’an bagaimanapun
adalah Kitab Allah SWT. untuk semua manusia yang menandung nilai-nilai
universal yang kontekstual untuk segala zaman. Untuk mengetahui nilai-nilai
yang universal tersebut maka Al Qur’an perlu dipelajari.
Setiap insan dianjurkan untuk mengajarkan Al
Qur’an kepada dirinya sendiri, keluarga, dan orang lain. Disamping itu juga
harus memikirkan, merenungkan, memahami dan mengamalkannya dalam kehidupan
sehari-hari. Untuk mengatasi hal itu maka tentunya harus bisa membaca Al Qur’an
dengan baik dan benar. Bagi yang belum bisa membaca Al Qur’an, tentunya sulit
untuk mempelajari Al Qur’an. Oleh karena itu, diperlukan cara membaca
Al Qur’an yang tidak menyulitkan terutama bagi
pemula atau anak yang masih kecil.
Prinsip pengajaran Al-Qur’an pada dasarnya
dapat dilakukan dengan berbagai macam metode, yang semuanya memiliki tujuan
yang sama yaitu agar anak-anak dapat membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar.
Metode adalah cara yang digunakan untuk melaksanakan suatu pekerjaan agar
tercapai sesuai dengan yang dikehendaki. Dalam proses belajar mengajar metode
merupakan faktor yang sangat dominan dalam menentukan keberhasilan
pembelajaran. Seorang pendidik atau guru diharapkan memiliki berbagai metode
yang tepat serta kemampuan dalam menggunakan metode yang akan digunakan dalam
proses pembelajaran.
Metode pembelajaran Al-Qur’an pada hakekatnya
adalah mengajarkan Al-Qur’an pada anak yang merupakan suatu proses pengenalan
Al-Qur’an tahap pertama dengan tujuan agar siswa mengenal huruf sebagai tanda
suara atau tanda bunyi. Pengajaran membaca Al-Qur’an tidak dapat disamakan
dengan pengajaran membaca dan menulis di sekolah dasar, karena dalam pengajaran
Al-Qur’an, anak-anak belajar huruf dan kata-kata yang tidak mereka pahami
artinya. Yang paling penting dalam pembelajaran membaca Al-Qur’an adalah
keterampilan membaca Al-Qur’an dengan baik sesuai dengan kaidah yang disususun
dalam ilmu Tajwid.
Salah satu kesulitan membaca Al-Qur’an bagi
anak-anak adalah karena ayat-ayatnya terdapat kalimat yang panjang sehingga
mengakibatkan kurang lancar, bahkan tidak faasih dalam membaca. Kesulitan
tersebut diakibatkan karena pada tingkat dasar belum sepenuhnya memahami ilmu
tajwid, dan biasanya para guru mengajarkan secara praktis, sehingga seringkali
anak sekedar menghafal saja. Hal tersebut di atas juga banyak dialami oleh anak
didik yang masih duduk dibangku tingkat dasar. Maka bagi guru perlu menggunakan
metode yang tepat dan efisien dalam mengajarkan membaca Al Qur’an.
Rendahnya motivasi siswa dalam belajar
al-Qur’an masih merupakan salah satu penyebab rendahnya mutu pendidikan
terutama dalam kemampuan membaca al-Qur’an. Salah satu upaya untuk meningkatkan
motivasi belajar Baca Tulis al-Qur’an adalah dengan penggunaan metode yang
sesuai yang dapat dilakukan oleh guru Baca Tulis al-Qur’an dalam kelas.
Dalam mendidik agama pada siswa jenjang
sekolah dasar diperlukan pendekatan pendekatan tertentu, diantaranya melalui
pendekatan keagamaan. Pendekatan keagamaan ialah bagaimana cara pendidik
memproses anak didik atau siswa melalui kegiatan bimbingan, latihan dan
pengajaran keagamaan, termasuk didalamnya mengarahkan, mendorong, dan memberi
semangat kepada mereka agar mau mempelajari ajaran agamanya melalui baca tulis
Al- Qur’an (BTA), serta taat dan mempunyai cita rasa beragama Islam.
Pendidikan merupakan interaksi antara orang
dewasa dengan orang yang belum dapat menunjang perkembangan manusia yang
berorientasikan pada nilai-nilai dan pelestarian serta perkembangan kebudayaan
yang berhubungan dengan usaha pengembangan kehidupan manusia. Perkembangan
agama pada anak sangat ditentukan oleh pendidikan dan pengalaman yang
dilaluinya, terutama pada masa pertumbuhan pertama (usia 0-12 tahun). Masa ini
merupakan masa yang menentukan bagi pertumbuhan dan perkembangan agama anak
untuk masa berikutnya. Di era globalisasi yang didukung oleh kemajuan teknologi
informasi terutama dalam kemajuan media massa (cetak dan elektronik),
sehubungan dengan kehidupan anak sehari-hari, pengaruh media massa dapat
berdampak positif dan juga negatif.
BTA adalah bagian materi Pendidikan Agama
Islam di sekolah dasar yang selama ini kurang mendapat perhatian yang lebih
besar, padahal banyak sekali masyarakat yang mengeluh bahwa lulusan SD Negeri
banyak yang belum dapat membaca Al-Qur’an secara benar sesuai dengan ilmu
tajwid. Hal ini juga didukung dengan rendahnya prestasi BTA siswa, terutama
pada materi membaca dan menulis huruf hijaiyah yang sudah mulai dikenalkan pada
kelas II Sekolah Dasar. Seharusnya ini menjadi kekhawatiran semua guru Agama
Islam, karena diharapkan pendidikan SD adalah dasar bagi pembentukan diri anak.
Akan sangat sulit sekali ketika anak tidak menguasai BTA sejak dini untuk dapat
membaca Al-Qur’an secara baik dan benar. Kritikan dan keluhan masih sering
dilontarkan oleh masyarakat dan para orang tua siswa. Banyaknya anak yang belum
mampu membaca Al-quran dengan baik dan benar, belum mampu menulis serta belum
mampu memahami dan mengamalkan isinya.
Namun dari beberapa faktor tersebut,
berdasarkan pengamatan awal yang peneliti lakukan terdapat kecenderungan yang
mengarah pada faktor metode pembelajaran yang harus diperbaiki. Dimana metode
yang digunakan sebelumnya sebatas pada teori, peran aktif siswa kurang
diperhatikan, sehingga hasil pembelajaran BTA belum maksimal. Selanjutnya untuk
mengetahui bagaimana kemampuan membaca Al Qur’an siswa SD As Salam Pamulang
Tangerang Selatan terutama dalam mempraktikkan bacaan ayat-ayat Al Qur’an yang
baik dan benar sesuai dengan tuntunan ilmu tajwid maka diperlukan suatu
penelitian ilmiah
Bertitik tolak dari hal tersebut penulis
mencoba untuk mengadakan penelitian yang hasilnya akan dituangkan dalam skripsi
yang berjudul: “Metode Pembelajaran BTA di SD As Salam Pamulang Tangerang
Selatan”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang penulis
kemukakan di atas, maka yang menjadi topik permasalahan ini dapat dirumuskan
sebagai berikut:
Faktor apa yang mempengaruhi rendahnya
penguasaan BTA di SD As Salam Pamulang Tangerang Selatan?
C. Definisi Operasional
1. Pengertian Metode
Metode berasal dari Bahasa Yunani “Methodos’’
yang berarti cara atau jalanyang ditempuh. Sehubungan dengan upaya ilmiah,maka
metode menyangkut masalahcara kerja untuk dapat memahami objek yang menjadi
sasaran ilmu yang bersangkutan.Fungsi metode berarti sebagai alat untuk
mencapai tujuan.
2. Pengertian pembelajaran
Pembelajaran adalah suatu sistem yang
bertujuan untuk membantu proses belajar siswa, yang berisi serangkaian
peristiwa yang dirancang, disusun sedemikian rupa untuk mempengaruhi dan
mendukung terjadinya proses belajar siswa yang bersifat internal.
3. Pengertian Baca Tulis Al Quran
Baca dalam arti kata majemuknya “membaca” yang
penulis pahami berarti melihat tulisan dan mengerti atau dapat melisankan yang
tertulis.
Kata “tulis” berarti batu atau papan batu
tempat menulis (dahulu banyak dipakai oleh murid-murid sekolah), kemudian kata
“tulis” ditambah akhiran “an” maka menjadi kata “tulisan” (akan lebih mengarah
kepada usaha memberikan pengertian dari baca tulis Alquran) maka tulisan
berarti hasil menulis.
Dari kata “baca” dan “tulis” digabungkan akan
membentuk sebuah kata turunan yaitu “Baca Tulis” yang berarti suatu kegiatan
yang dilaksanankan secara berurutan yaitu menulis dan membaca.
Kata “Alquran” menurut bahasa artinya bacaan
sedangkan menurut istilah adalah mukjizat yang diturunkan oleh Allah kepada
Nabi Muhammad Saw sebagai sumber hukum dan pedoman bagi pemeluk ajaran agama
Islam, jika dibaca bernilai ibadah. Pengertian dapat penulis uraikan dengan
lebih terinci, bahwa Alquran adalah firman Allah swt. yang diturunkan kepada
Nabi Muhammad Saw secara mutawatir dan berangsur-angsur, melalui malaikat
Jibril yang dimulai dengan surah Al-Fatihah dan diakhiri dengan surah An-Nas
dan membacanya bernilai ibadah.
Dari uraian di atas dapat dirumuskan suatu
pengertian bahwa baca tulis Alquran adalah suatu kemampuan yang dimiliki untuk
membaca dan menuliskan kitab suci Alquran. Berangkat dari pengertian tersebut,
maka terdapatlah gambaran dari pengertian baca tulis Alquran tersebut, yaitu
diharapkan adanya kemampuan ganda yaitu membaca dan menulis bagi obyek yang
diteliti. Sebab kemampuan tersebut berpengaruh kepada prestasi belajar bahasa
Arab.
Jadi yang dikehendaki dari pengertian baca
tulis Alquran tersebut adalah kemampuan ganda yakni membaca dan menulis.
Maksudnya, di samping dapat membaca juga diharapkan mampu menulis dengan benar
lafal dari ayat-ayat Alquran lalu bagaimana hubungan kedua kemampuan tersebut.
Untuk sementara penulis dapat mengemukakan bahwa kedua perkataan tersebut
sangat erat hubungannya, karena merupakan dasar untuk membaca dengan baik
adalah menulis, demikian pula sebaliknya bahwa dasar untuk menulis dengan baik
adalah membaca secara teliti lebih dahulu. Hal ini dapat kita lihat buktinya
bahwa seseorang dapat membaca dengan lebih baik dan benar suatu naskah jika dia
telah mengenal tulisannya atau bila dia telah mampu menulisnya. Demikian juga
seseorang kadang-kadang dapat menulis dengan benar jika dia telah mampu membaca
dengan lafal yang benar. Hal ini merupakan gambaran betapa erat hubungan antara
membaca dan menulis.
D. Tujuan Dan Kegunaan Penelitian
Penelitian ini secara umum bertujuan untuk
menggali informasi tentang penyebab rendahnya penguasaan BTA di SD As Salam
Pamulang Tangerang Selatan. Pendidikan Agama Islam di SD As Salam Pamulang
Tangerang Selatan, yaitu sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui penyebab rendahnya
penguasaan BTA di SD As Salam Pamulang Tangerang Selatan.
2. Untuk mengetahui metode-metode yang sesuai
dalam pembelajaran BTA di SD As Salam Pamulang Tangerang Selatan.
Adapun hasil dari penelitian ini nantinya di
harapkan dapat:
1. Menambah wawasan dan pengetahuan bagi
penulis
2. Sebagai bahan informasi dari berbagai
pihak, khususnya sekolah yang bersangkutan, masyarakat dan pemerintah.
3. Bagi siswa, akan lebih membangkitkan
semangat belajar, bagi guru, memberikan alternatif dalam menggunakan metode
mengajar, dan bagi kepala sekolah, diharapkan agar hasil penelitian ini dapat
menjadi acuan dalam meningkatkan mutu pendidikan.
E. Telaah Pustaka
Dalam telaah pustaka ini, penulis akan
mendeskripsikan beberapa karya yang ada relevansinya dengan judul skripsi
“Metode Pembelajaran BTA di SD As Salam Pamulang Tangerang Selatan” ini.
Beberapa karya itu antara lain:
Skripsi yang di tulis oleh Aning Nur’aini NH
Jurusan PAI Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tentang penerapan
metode Tahfidz Al-Quran pada kanak-kanak di Pondok Pesantren Baiquniyah Imogiri
Bantul Yogyakarta. Penelitian lapangan ini mendeskripsikan tentang penerapan
metode tahfiz al-Qur’an, prestasi menghafal yang dicapai santri kanak-kanak dan
faktor pendukung maupun faktor penghambat dalam penerapan metode tahfiz
al-Qur’an di Pondok Pesantren Al-Baiquniyah Imogiri Bantul Yogyakarta. Hasil
temuan dari penelitian ini adalah metode yang diterapkan dalam tahfiz al-Quran
pada kanak-kanak di Pondok Pesantren Imogiri Bantul Yogyakarta adalah
musyawarah, pemberian tugas, taktis, stor, dan murraja’ah. Prestasi yang
dicapai tiap santri berbeda tetapi memenuhi target dan tujuan yang telah ditetapkan
dalam kurikulum. Faktor pendukungnya terdiri dari usia santri, kecerdasan,
tujuan dan minat santri, serta lingkungan yang mendukung.
Skripsi yang di tulis oleh Khalimatul Mari’ati
jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
tentang metode pembelajaran tahfiz al-Quran di SD IT Lukman Al Hakim
Yogyakarta. Penelitian ini mendeskripsikan dan menganalisa tentang bagaimana
pelaksanaan pembelajaran khususnya tahfiz al-Quran yang dilaksanakan di SDIT
Lukman Al-Hakim Yogyakarta faktor penghambat dan pendukung serta hasil yang
dicapai. Hasil temuan dari penelitian ini materi tahfiz al-Quran adalah juz 30,
29 dan 28. proses pembelajrannya dengan dua cara yaitu tahfiz dan takrir.
Tahfiz dilakukan dengan dua teknik yaitu talaqqi bagi yang belum mampu membaca
al-Qur’an khususnya kelas awal. Teknik mandiri bagi yang sudah mampu dilakukan
dengan yang muraja’ah atau mengulang-ulang. Metode yang dilakukan. Metode yang
dilakukan berbeda dan melalui hafalan pra belajar. Agar metode tahfiz al-Quran
kondusif digunakan pendekatan : individual, kelompok bervariasi educatif dan
pembiasaan. Faktor pendukung dari tahfiz al-Quran di SDIT Lukman Al-Hakim
Yogyakarta adalah banyaknya ustad-ustadzah, kemampuan dan semangat belajar
siswa control dari orang tua dan kurangnya waktu. Adapun faktor penghambatnya,
keterbatasan ustad-ustadzah, kemampun dan semangat belajar yang tidak sama,
kurangnya control dari orang tua serta kurangnya waktu. Hasil dari tahfiz
al-Quran dikategorikan menjadi dua yaitu evaluasi harian dan evaluasi catur
wulan. Hasil dari evaluasi harian belum memenuhi target dan penguasaan siswa
secara kualitatif adalah cukup. Sedangkan hasil evaluasi catur wulan yang
dicapai oleh siswa secara kualitatif adalah bagus .
Dari beberapa penelitian skripsi di atas,
belum ada satupun yang menekankan penelitian dalam upaya mempermudah siswa
dalam penguasaan BTA di SD As Salam Pamulang Tangerang Selatan apalagi dengan
menggunakan metode-metode yang sesuai dengan siswa dalam pembelajaran SD As
Salam Pamulang Tangerang Selatan.
F. Kajian Teori
1. Tinjauan Tentang Metode
a) Pengertian Metode
Secara etimologis, metode berasal dari kata
‘met’ dan ‘hodes’ yang berarti melalui. Sedangkan istilah metode adalah jalan
atau cara yang harus ditempuh untuk mencapai suatu tujuan. Sehingga 2 hal
penting yang terdapat dalam sebuah metode adalah : cara melakukan sesuatu dan
rencana dalam pelaksanaan.
Metode adalah seperangkat langkah (apa yang
harus dikerjakan) yang tersusun secara sistematis (urutannya logis). Sehubungan
dengan upaya ilmiah, maka metode menyangkut masalah cara kerja untuk dapat
memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan. Fungsi metode
berarti sebagai alat untuk mencapai tujuan. Pengetahuan tentang metode-metode
mengajar sangat di perlukan oleh para pendidik, sebab berhasil atau tidaknya
siswa belajar sangat bergantung pada tepat atau tidaknya metode mengajar yang
digunakan oleh guru.
b) Pengertian Metode Mengajar
Metode mengajar adalah cara guru mengajar.
Metode mengajar adalah cara yang sistematis yang digunakan untuk mencapai
tujuan. Berdasar pendapat kedua di atas dapat disimpulkan bahwa metode mengajar
adalah cara guru di dalalm menyampaikan materi secara sistematis untuk mencapai
tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan. Dalam memilih metode pembelajaran
yang perlu dipertimbangkan yaitu tujuan yang hendak dicapai, bahan atau materi
pengajaran yang perlu dipertimbangkan yaitu tujuan yang hendak dicapai, bahan
atau materi pengajaran, kemampuan guru, dan kemampuan siswa, media sarana prasarana
pengajaran yang tersedia, waktu yang dibutuhkan, dan keseluruhan situasi bagi
berlangsungnya kegiatan belajar mengajar.
Berdasarkan uraian di atas dapat disebutkan
ada banyak metode mengajar yang dapat dipakai dalam pembelajaran dan di antara
metode-metode tersebut tentu ada kelebihan dan kekurangannya. Tidak ada satu
metodepun yang cocok untuk semua situasi, hal ini memberikan pengertian bahwa
setiap metode yang diimplementasikan perlu memperhatikan faktor siswa semua dan
kemampuan guru.
2. Tinjauan tentang Pembelajaran Baca Tulis
Al-Qur’an (BTQ)
Sebelum membahas tentang pembelajaran baca
tulis Al-Qur’an, terlebih dahulu diuraikan tentang pengertian dari istilah
tersebut. Pembelajaran Al-Qur’an terdiri dari empat kata yakni “kata
pembelajaran”, “baca”, “tulis” dan “kata Al-Qur’an”.
a) Pengertian pembelajaran
Kata pembelajaran yang penulis analisa adalah
pembelajaran dalam arti membimbing dan melatih anak untuk membaca Al-Qur’an
dengan baik dan benar serta dapat mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan
Nasional No. 20 Tahun2003, pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik
dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Jadi pada
intinya prosespembelajaran tidak terlepas dari tiga hal, yaitu pendidik,
peserta didik, dansumber-sumber belajar yang digunakan dalam proses
pembelajaran itu. Sedangkan proses adalah tahapan –tahapan dalam suatu
peristiwa pembentukan. Proses adalah tuntutan perubahan dalam
perkembangansesuatu. Jadi, proses pembelajaran adlah tahapan –tahapan yang
ditempuholeh pendidik dan peserta didik dalam rangka proses merubah
tingkahlakuuntuk mencapai tujuan pembelajaran yang sudah ditetapkan .
Belajar mengajar sebagai proses terjadi
manakala terdapat interaksi antaraguru sebagai pengajar dengan siswa sebagai
pelajar. Belajar adalah suatuproses yang kompleks yang terjadi pada semua orang
dan berlangsung seumurhidup. Salah satu pertanda bahwa seseorang telah belajar
sesuatu adalahadanya perubahan tingkah laku dalam dirinya. Perubahan tingkah
lakutersebut menyangkut perubahan yang bersifat pengetahuan (kognitif),
ketrampilan (psikomotor), maupun yang menyangkut nilai dan sikap (afektif).
b) Pengertian membaca
Membaca
berasal dari kata dasar ”baca”, berdasarkan kamus ilmiah jiwadan pendidikan,
membaca merupakan ucapan lafadz bahasa lisan menurutperaturan-peraturan
tertentu. Kata baca dalam bahasa indonesia mengandungarti: melihat,
memeperhatikan, serta memahami isis dari yang tertulis denganmelisankan atau
hanya dalam hati. Dalam literatur pendidikan islam istilahbaca mngandung dua
penekanan yaitu: tilawah dan qiraah Istilah tilawah mengandung makna mengikuti
(membaca) apa adanya baik secara fisik maupun mengikuti jejak dan
kebijaksanaan, atau membaca apa adanyasesuai dengan aturan bacaan yang benar
dan baik.Sedangkan qiraati mengandung makna menyampaikan, menelaah,membaca,
meneliti, mengkaji, mendalami, mengetahui ciri-ciri atau merenungkan, terhadap
bacaan-bacaan yang tidak harus berupa tekstertulis.Makna baca tidak
sekedar tilawah tapi juga qiraah.19 Dalam bukunya M. Hasbi Ash
Shiddieqi mendefinisikan bahwa Al-Qur’an menurut bahasa adalah bacaan atau yang
dibaca. Al-Qur’an adalah”mashdar” yang diartikan dengan arti isim maf’ul yaitu:
maqru: yang dibaca. Di dalam Al-Qur’an sendiri ada pemakaian kata ”qur’an”
dalam arti demikian.
Sebelum siswa dapat membaca (mengucap huruf,
bunyi, atau lambang bahasa) dalam Al-Qur’an, lebih dahulu siswa harus mengenal
huruf yaitu huruf hijaiyah. Kemampuan mengenal huruf dapat dilakukan dengan
cara melihat dan memperhatikan guru menulis. Sedangkan latihan membaca dapat
dilakukan dengan membaca kalimat yang disertai gambar atau tulisan. Dari
pendapat diatas, dapat disimpulkan pmbelajaran membaca adalah kegiatan
pembelajaran membaca yang tidak ditekankan pada upaya memahami informasi,
tetapi ada pada tahap melafalkan lambang-lambang. Adapun tujuan pembelajaran
membaca permulaan agar siswa dapat membaca kata-kata dengan kalimat sederhana
dengan lancar dan tertib.
c) Pengertian menulis
Menurut Rudy S. Iskandar menulis adalah
kegiatan menuangkan symbol huruf, sedangkan huruf adalah bentuk-bentuk yang
merupakan lambing bunyi seperti “a” dari alat bunyi yang berada dalam rongga
mulut dengan mulut dibuka lebar, sedangkan huruf “b” adalah lambing bunyi jika
bibir atas dan bawah diletupkan. Jadi menulis adalah menuangkan symbol lambang
dan bunyi. Menurut sabri kata tulis merupakan kata kerja yang memiliki arti
melambungkan apa yang dilihat atau didengar baik berupa huruf maupun angka.
Dasar-dasar menulis secara umum sama dengan
membaca perbedaanya hanya pada prosesnya saja, jika pada proses mambaca retina
mata mengubah energi cahaya menjadi syaraf yang disampaikan keotak kemudian
direkam dan dicetak kedalam syaraf alat ucap yang kemudian terjadilah peristiwa
membaca.
Sedangkan pada proses menulis setelah diproses
oleh otak disampaikan kesyaraf motorik yang mengerakan reflek gerak tangan, dan
terjadilah menulis. Menulispun merupakan peristiwa individual, dan apa bila
perkembangan mata seseorang terganggu maka perkembangan dan kemampuan
menulisnya akan terganggu pula.
d) Pengertian Al Quran
“Al Qur’an adalah kalam Allah yang tiada
tandingnya, diturunkan kepada nabi Muhamad saw, penutup para nabi dan rasul,
dengan perantaraan Jibril, dan ditulis pada mushaf-mushaf yang kemudian
disempaikan kepada kita secara mutawatir, serta membca dan mempelajarinya
merupakan ibadah, yang dimulai dengan surah Al-Fatihah dan ditutup dengan surah
An-Nas.”
Pendapat Ulama tentang asal kata Al Qur’an,
Asy-syafi’i, miisalnya, menengarai kata Al-Quran ditulis dan dibaca tanpa
menggunakan hamzah (Al-Quran bukan Al Qur’an) nama ini disematkan pada kitab
suci yang diwahyukan kepada nabi Muhamad, sama halnya dengan nama Taurat dan
Injil yang masing-masing secara berurutan diberikan kepada nabi isa dan nabi
musa (Zuhdi, 1997)
Al-farra’. Dalam kitab Ma’aniy Al Qur’an ia
menjelaskan bahwa kata Al Qur’an ditulis dan dibaca adalah bentuk jamak dari
kata qarinah yang berarti “petunjuk”. Argumentasi al-farra didasarkan pada
penomena ayat-ayat Al Qur’an yang saling berhubungan satu sama lain sehingga
masing-masing bisa dijadikan petunjuk yang saling melengkapi.
Dari kata “baca” dan “tulis” digabungkan akan
membentuk sebuah kata turunan yaitu “Baca Tulis” yang berarti suatu kegiatan
yang dilaksanankan secara berurutan yaitu menulis dan membaca. Kata “Al-Quran”
menurut bahasa artinya bacaan sedangkan menurut istilah adalah mukjizat yang
diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad Saw sebagai sumber hukum dan pedoman
bagi pemeluk ajaran agama Islam, jika dibaca bernilai ibadah. Pengertian dapat
penulis uraikan dengan lebih terinci, bahwa Alquran adalah firman Allah swt.
yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw secara mutawatir dan berangsur-angsur,
melalui malaikat Jibril yang dimulai dengan surah Al-Fatihah dan diakhiri
dengan surah An-Nas dan membacanya bernilai ibadah .
Dari
uraian di atas penulis dapat merumuskan suatu pengertian bahwa baca tulis
Al-Quran adalah suatu kemampuan yang dimiliki untuk membaca dan menuliskan
kitab suci Al-Quran. Berangkat dari pengertian tersebut, maka terdapatlah
gambaran dari pengertian baca tulis Alquran tersebut, yaitu diharapkan adanya
kemampuan ganda yaitu membaca dan menulis bagi obyek yang diteliti.Sebab kemampuan
tersebut berpengaruh kepada prestasi belajar bahasa Arab.
Jadi yang dikehendaki dari pengertian baca
tulis Al-Quran tersebut adalah kemampuan ganda yakni membaca dan menulis.
Maksudnya, di samping dapat membaca juga diharapkan mampu menulis dengan benar
lafal dari ayat-ayat Al-Quran lalu bagaimana hubungan kedua kemampuan tersebut.
Untuk sementara penulis dapat mengemukakan bahwa kedua perkataan tersebut
sangat erat hubungannya, karena merupakan dasar untuk membaca dengan baik
adalah menulis, Demikian pula sebaliknya bahwa dasar untuk menulis dengan baik
adalah membaca secara teliti lebih dahulu. Hal ini dapat kita lihat buktinya
bahwa seseorang dapat membaca dengan lebih baik dan benar suatu naskah jika dia
telah mengenal tulisannya atau bila dia telah mampu menulisnya.Demikian juga
seseorang kadang-kadang dapat menulis dengan benar jika dia telah mampu membaca
dengan lafal yang benar. Hal ini merupakan gambaran betapa erat hubungan antara
membaca dan menulis.
fuadievaluasi.ran guru-guru
PAI mampu menentukan tujuan intruksional khusus, menentukan materi, pendekatan,
metode, alat,
G. Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif.
Menurut Bogdan dan Taylor (sebagaimana yang dikutip oleh Lexy J. Moleong),
metode kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif
berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang
diamati. Sementara itu, Kirk dan Miller mendefinisikan bahwa penelitian
kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara
fundamental bergantung pada pengamatan pada manusia dalam kawasannya sendiri
dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya dan dalam
peristilahannya.
H. Jenis Penelitian
Penelitian ini mengambil lokasi di SD As Salam
Pamulang Tangerang Selatan, oleh karena itu penelitian ini digolongkan dalam
penelitian lapangan di mana yang menjadi obyeknya dalam penelitian ini adalah seluruh
usaha yang dilakukan oleh pihak SD As Salam Pamulang Tangerang Selatan dalam
upaya mempermudah siswa dalam penguasaan BTA di SD As Salam Pamulang Tangerang
Selatan dengan menggunakan metode-metode yang sesuai dengan siswa dalam
pembelajaran BTA di SD As Salam Pamulang Tangerang Selatan.
2. Metode Penentuan Subyek
Subyek dalam penelitian ini adalah seluruh
pihak yang terlibat langsung dalam upaya mempermudah siswa dalam penguasaan BTA
di SD As Salam Pamulang Tangerang Selatan dengan menggunakan metode-metode yang
sesuai.
Metode penentuan subyek sering disebut sebagai
metode penentuan sumber data. Maksud dari sumber data penelitian adalah subyek
dari mana data itu diperoleh.
3. Metode Pengumpulan Data
a. Data
Data yang digali dalam penelitian ini terdiri
dari data pokok dan data penunjang sebagai berikut:
1) Data pokok tentang upaya mempermudah siswa
dalam penguasaan BTA di SD As Salam Pamulang Tangerang Selatan dengan
menggunakan metode-metode yang sesuai dengan siswa di SD As Salam Pamulang
Tangerang Selatan.
2) Data pokok tentang faktor-faktor yang
mempengaruhi upaya mempermudah siswa dalam penguasaan BTA di SD As Salam
Pamulang Tangerang Selatan dengan menggunakan metode-metode yang sesuai
a) Latar belakang pengetahuan BTA siswa
b) Metode yang sering di gunakan
c) Media pembelajaran
d) Waktu
e) Komunikasi antara guru dan siswa
f) Training keguruan yang diikuti.
3) Data penunjang, yaitu data tentang gambaran
umum lokasi penelitian, meliputi:
a) Sejarah berdirinya SD As Salam Pamulang
Tangerang Selatan
b) Keadaan guru
c) Keadaan siswa SD As Salam Pamulang
Tangerang Selatan
b. Sumber Data
Untuk mendapat sumber data-data di atas, baik
data pokok maupun data penunjang, maka penelitian ini mengambil sumber data,
yaitu:
1) Responden
Responden dalam penelitian ini adalah seluruh
dewan guru yang mengajar dan siswa di SD As Salam Pamulang Tangerang Selatan.
2) Informan
Informan dalam penelitian ini adalah kepala
sekolah, dan staf TU di SD As Salam Pamulang Tangerang Selatan.
c. Teknik Pengumpulan Data
Untuk menggali data-data pokok dan data
penunjang di atas, maka penelitian menggunakan teknik-teknik pengumpulan data
seperti yang tersebut di bawah ini :
1) Angket
Metode angket yang dimaksud disini adalah
berupa daftar pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi
dari responden tentang hal-hal yang berkaitan dengan penelitian.
Menurut Kuntjaraningrat, metode kuesioner
merupakan suatu daftar yang tertulis yang berisikan suatu rangkaian pertanyaan
mengenai suatu hal atau dalam suatu bidang, dengan demikian maka kuesioner yang
dimaksudkan sebagai suatu daftar pertanyaan untuk memperoleh jawaban dari
responden (orang- orang yang menjawab).
Yang ditujukan kepada para guru dan siswa yang
terlibat langsung dalam upaya mempermudah siswa dalam penguasaan BTA di SD As
Salam Pamulang Tangerang Selatan dengan menggunakan metode-metode yang sesuai.
2) Wawancara
Wawancara merupakan suatu metode pengumpulan
data dan informasi yang dilakukan dengan jalan tanya jawab sepihak yang
dikerjakan dengan sistematik dan dibandingkan dengan tujuan penelitian.
3) Observasi
Metode observasi dalam pengumpulan data dapat
diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap
fenomena-fenomena yang ada dalam objek yang akan diteliti (diselidiki).
4) Dokumentasi
Metode ini merupakan pengambilan data
berdasarkan dokumentasi yang dalam arti sempit berarti kumpulan data verbal
dalam bentuk tulisan. Penulis mengunakan metode dokumentasi untuk
mendapatkan data tentang letak geografis, jumlah guru dan karyawan, keadaan
siswa dan keadaan sarana prasarana.
5) Metode Analisis Data
Analisis data adalaah proses mengatur urutan
data, mengorganisasikannya ke dalam suatu pola, kategori dan satuan uraian
dasar. Setelah data diperoleh dan diolah dengan menggunakan teknik yang telah
ditentukan, diambil kesimpulan secara umum, kemudian hasil penelitian ini
disajikan secara verbal. kemudian data-data tersebut dianalisis dengan
pendekatan deskriptif dengan metode induksi, yaitu suatu pemikiran yang
bertolak dari peristiwa khusus untuk selanjutnya.
[1]
Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta: 1971, hlm.645
[2] Ahmad Syarifuddin, Mendidik Anak Mambaca,
Menulis, dan Mencintai Al-Qur’an, Jakarta:Gema Insani, 2004, hlm. 16
[3] Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia,
Jakarta: Balai Pustaka: 2005, hlm. 740.
[4] Zakiah Darajat, Metodik Khusus Pengajaran
Agama Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 2004, h. 92.
[5] Muhaimin, Arah Baru Pengembangan
Pendidikan Islam. Bandung: Nuansa, 2003, hlm. 113
[6] H. Gunawan, Kebijakan-kebijakan Pendidikan
di Indonesia, (Jakarta: Bina Aksara, 1906), hlm 1.
[7] Imam Barnadib, Dasar-Dasar Pendidikan
Perbandingan (Yogyakarta: Institut Press, IKIP Yogyakarta, 1988) hal. 29-30
[8] M. Dahlan, Kamus Ilmiah Populer . Surabaya,
Arkola, 1994. Hal 633
[9] Nana Sujana , Cara Belajar Siswa Aktif .
Bandung: Sinar Baru, 1989. hlm, 11
[10] Armai Arief. Pengantar Ilmu Dan
Metodologi Pendidikan Islam . Jakarta : Ciputat Pers,2002. hlm 1
[11] Depdikbud RI, Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Jakarta : Balai Pustaka, 1989
[12]
M. Hasbi Ash Siddiqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an\Tafsir . Jakarta : PT.Bulan Bintang,
1992.hlm 1
[13] Rudy S, Iskandar, Pengenalan Tipografi
(Tanpa Tempat: Buletin Pusat Perbukuan, 2002). Hal 27
[14] Alisuf Sabri, Buletin Mimbar Agama dan
Budaya (Jakarta: IAI, 1991), hal 14
[15] Nur Faizah, Sejarah Al Qur’an (Jakarta:
Artha Rivera, 2008), hal 95
[16] Ibid., hal. 100
[17] Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian
Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya,
2002), hlm. 3
[18] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian
Menurut Pendekatan Praktis (Jakarta, Rineka Cipta, 1991) hal. 90
[19]
Suharsimi, op.cit., hal. 124
[20]
Kunctaraningrat, Metode Penelitian Masyarakat (Jakarta: Gramedia,1990) hal.173
[21] Sutrisno Hadi, op. cit., hal. 136
[22] Ibid, hal. 136
[23] Kuntjaraningrat, Metode-metode Penelitian
Masyarakat (Jakarta: Gramedia, Pustaka Utama, 1997) hal. 129
[24] Ahmad Tanzeh, Pengantar Metode
Penelitian, hal. 69