Jumat, 13 Maret 2015

TELAAH KRITIS TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM DI MADRASAH (ASAL-USUL DAN SEJARAH MADRASAH SERTA KARAKTERISTIK PENDIDIKAN ISLAM DI MADRASAH)

 













Makalah ini diajukan sebagai salah satu syarat memenuhi tugas  mata kuliah Pemikiran Pendidikan Islam Program Studi Manajemen Pendidikan Islam
Jurusan Tarbiyah STAIN
Watampone



Oleh

HAIRUL
02123108
NURHAENAH N.
02123116

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI(STAIN)
WATAMPONE

2014
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Madrasah adalah salah satu bentuk kelembagaan pendidikan Islam yang memiliki sejarah sangat panjang.Pendidikan Islam itu sendiri dalam pengertian umum dapat dikatakan muncul dan berkembang seiring dengan kemunculan Islam itu sendiri; yakni berawal dari pendidikan yang bersifat informal berupa dakwah islamiyah untuk menyebarkan Islam,terutama dalam hal yang berkaitan dengan aqidah.Pada masa ini berlangsung pendidikan Islam yang diselenggarakan dirumah-rumah yang dikenal dengan Dar al-arqam.Kemudian,seiring dengan perkembangan Islam dan terbentuknya masyarakat islam,pendidikan Islam diselenggarakan di dalam mesjid-mesjid yang dikenal dengan bentuk halaqah.Kebangkitan madrasah merupakan awal dari bentuk pelembagaan pendidikan Islam secara formal.
Madrasah muncul sebagai lembaga pendidikan di dunia pendidikan sejak abad ke-11 masehi dan telah tumbuh dan berkembang pada masa kejayaan pendidikan Islam.Diantaranya yang terkenal adalah madrasah yang dibangun oleh Perdana Menteri Nizamul Mulk yang populer dengan nama Madrasah Nizamiyah,demikian juga madrasah yang dibangun oleh Zainuddin Zinki penguasa Syiria dan Mesir.Pada abad pertengahan,madrasah dipandang sebagai lembaga pendidikan Islam par exellenceI I,menjadi trend hampir disemua wilayah kekuasaan Islam.
Namun,penting untuk diperhatikan bahwa suatu ciri lain pendidikan madrasah adalah pembinaan jiwa agama dan akhlak anak didik.Inilah yang menjadi identitas sebenarnya dari pendidikan madrasah yang perlu diperhatikan oleh para pengelolah dan guru lembaga pendidikan Islam itu.Pendidikan dan pengajaran dalam madrasah harus diarahkan kepada pembinaan keyakinan agama,sehingga hidupnya selalu berpedoman kepada ajaran Islam.Di samping itu, perlu disadari bahwa tujuan hidup seorang muslim adalah bahagia di dunia,bahagia di akhirat nanti,dan terhindar dari segala dosa yang akan membawa kepada kemurkaan ALLAH SWT.
Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat dirumuskan rumusan masalah sebagai berikut :
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimanakah asal-usul dan sejarah lahirnya Madrasah ?
2.      Bagaimanakah karakteristik pendidikan Islam di Madrasah ?
C.     Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui asal-usul dan sejarah lahirnya Madrasah.
2.      Untuk mengetahui karakteristik pendidikan Islam di Madrasah.


























BAB II
PEMBAHASAN
A.    Asal-usul dan sejarah lahirnya Madrasah
Madrasah  adalah isim makan dari kata “darasa” yang berarti “duduk untuk belajar”Istilah madrasah sekarang telah menyatu dengan istilah sekolah atau perguruan(terutama perguruan tinggi).[1]
George Makdisi memberi nama madrasah sebagai college of law.lebih lanjut ia menjelaskan bahwa isitilah madrasah diambil dari akar kata dars .Kata dars menunjuk pada mata pelajaran fikih; dan tadris,bentuk verbal noun(masdar),berarti”mengajar fiqih”.Ulama fiqih,guru besar fiqih,disebut mudarris; dan kata darasa,tanpa dilengkapi sebuah komplement,diartikan mengajarkan bidang studi fiqih.Berbeda dengan bidang studi hadis,yang diambil dari bentuk kedua dari kata haddatsa ,artinya mengajarkan pelajaran hadis.verbal noun haddatsa adalah tahdis.dalam pelajaran fikih tidak menggunakan istilah faqqaha-tafqih (dari kata fiqih),tetpi darrasa –taddris.diantara metode pengajar hadis adalah riwayah (meriwayatkan) atau imla’(mendikte).kata madrasah menunjukan tempat (isim makan) dimana bidang studi fikih di ajarkan.[2]
Madrasah sebagai lembaga pendidikan dalam bentuk pendidikan formal sudah dikenal sejak awal abad ke-11 atau 12 M,atau abad ke-5-6 H,yaitu sejak dikenal adanya madrasah Nizamiyah yang didirikan di baghdad oleh Nizam Al Mulk,yaitu seorang wasir dari Dinasti Saljuk.[3]Banyak pula penulis kontemporer menyimpulkan demikian,termasuk Ahmad Syalabi.Muhammad Abd Rahim dalam karyanya Al-jami’ah al- Islamiyah al-kubra  bahkan menyatakan bahwa kata Madrasah belum dijumpai pada sumber-sumber sejarah hingga kira-kira akhir abad ke-4 Masehi.Akan tetapi,banyak bukti yag signifikan justru menunjukkan bahwa madarasah  telah berdiri sejak abad keempat Hijriyah dan dihubungkan dengan penduduk Naisabur.[4]Namun demikian,tidak dapat disangkal bahwa pengaruh madrasah Nizamiyah melampui pengaruh madrasah-madrasah yang didirikan sebelumnya.Ahmad Syalabi,misalnya,menjadikan pendirian Madrasah Nizamiyah sebagai pembatas,untuk membedakannya dengan era pendidikan Islam sebelumnya.Era baru itu ialah pada adanya ketentuan-ketentuan yang lebih jelas yang berkaitan dengan komponen-komponen pndidikan dan pada keterlibatan pemerintah dalam pengelolaan Madrasah.Madrasah Nizamiyah merupakan lembaga pendidikan resmi dan pemerintah terlibat dalam menetapkan tujuan-tujuan yang teratur pada madrasah.Madrasah merupakan lembaga resmi dari pemerintah yang menghasilkan karyawan-karyawan dan pegawai-pegawai pemerintah.[5]
Pada saat Islam telah berkembang secara luas dalam berbagai macam ilmu pengetahan,dengan berbagai macam aliran atau mazha pemikirannya.perbandingan ilmu pengetahuan tersebut,bukan hanya meliputi ilmu-ilmu yang berhubungan Al qur’an dan Hadis,seperti ilmu-ilmu Al qur’an,Hadis,Fiqih,ilmu kalam,maupun ilm tasawuf,tetapi juga bidang-bidang ilmu filsafat,astronomi,kedokteran,matematikadan berbagai bidang ilmu-ilmu alam dan kemasyarakatan.
Meskipun madrasah sebagai lembaga pendidikan dan pengajaran di dunia Islam baru timbul sekitar abad ke-5 H tidak berarti bahwa sejak awal perkembangannya,Islam tidak mempunyai lembaga pendidikan dan pengajaran.Islam datang dan mewarisi dari masyarakat bangsa Arab pada masa itu,ternyata jauh sebelum itu,yaitu pada zaman pemerintahan Bani Umayyah,umat Islam sudah mempunyai semacam lembaga pendidikan Islam yang disebut”Kuttab”.Para guru yang mengajar pada Kuttab ini pada mulanya adalah orang-orang nonmuslimin,terutama orang-orang Yahudi dan Nasrani.Karena itulah pada pengajaran Kuttab itu,oleh umat Islam hanya sebagai tempat belajar keterampilan membaca dan  menulis saja,sedangkan untuk pengajaran Al qur’an dan dasar agama Islam diberikan dan diajarkan di Mesjid-Mesjid oleh para guru khusus.Selanjutnya untuk kepentingan pengajaran menulis dan membaca bagi anak-anak,yang sekaligus juga memberikan pengajaran Al qur’an dan dasar-dasar pengetahuan agama Islam,maka diadakanlah Kuttab-Kuttab yang terpisah dari mesjid agar anak-anak tidak mengganggu ketenangan dan kebersihan mesjid.
Berdasarkan kenyataan tersebut,bahwa pada awal perkembngan pendidikan Islam,telah terdapat dua jenis lembaga pendidikan dan pengajaran,yaitu Kuttab,yang mengajarkan kecakapan menulis dan membaca Al qur.an serta dasar-dasar agama Islam kepada anak-anak,dan merupakan pendidikan tingkat dasar.Sedangkan mesjid,dalam bentuk halaqah,yang memberikan pendidikan dan pengajaran tentang berbagai macam ilmu pengetahun masa itu,dan merupakan tingkat pendidikan lebih lanjut.
Berasal dari halaqah-halaqah mesjid inilah yang kemudian melahirkan ulama-ulama besar dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan agama Islam,dan dari sini pula timbulnya Mazhab atau aliran dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan,yang pada saat itu dikenal dengan istilah”Madarasah”.Melalui halaqah ini para ulama dari berbagai mazhab mengembangkan ajaran-ajarannya.Berbagai cabang ilmu pengetahuan yang berkembang pada masa itu diajarkan di Mesjid.Mesjid pada masa itu adalah sebagai lembaga pendidikan dan pengajaran yang utama dalam dunia Islam.[6]
B.     Karakteristik Pendidikan Islam di Madrasah
Pengembangan pendidikan maadrasah tampaknya tidak dapat ditangani secara parsial atau setengah-setengah,tetapi memerlukan pemikiran pengembangan yang utuh sebagai konsekuensi dari identitasnya sebagai sekolah umum yang berciri khas agama Islam.terutama ketika dihadapkan pada kebijakan pembangunan nasional bidang pendidikan yang menekankan pada peningkatan kualitas SDM.[7]Madrasah sebagai lembaga pendidikan yang berciri khas Islam tentu memiliki ciri khusus dibandingkan dengan sekolah,yang jelas perbedaan antara keduanya adalah kalau madrasah adalah sekolah umum yang berciri khas agama Islam,sedangkan sekolah adalah tidak demikian.Para kaum simbolik menjwab pertanyaan tersebut dengan jawaban-jawaban berikut :
Di madrasah mata pelajaran agama Islam dibagi kedalam beberapa submata pelajaran, yaitu Al Qur’an-Hadis, Aqidah-Akhlak, Fikih, sejarah     (kebudayaan) Islam,dan bahkan ditambah dengan mata pelajaran bahasa Arab sejak MI hingga MA,sehingga porsi mata pelajaran pendidikan agama Islam lebih banyak.Sementara pada pendidikan sekolah,mata pelajaran pendidikan agama Islam digabung menjadi satu,dan prosinya hanya dua jam per minggu.Namun demikian,didalamnya pada dasarnya juga meliputi, Al Qur’an-Hadis, keimanan  (Aqidah), Akhlak, Ibadah –Syariah-Muamalah(fikih),dan sejarah(kebudayaan) Islam.
Di madrasah para peserta didiknya (putri) memakai jilbab dan peserta ddik putra memakai celana panjang,sedangkan disekolah par peserta didik putri memakai baju rok dan peserta didik (putra) memakai celana pendek untuk jenjang pendidika dasar,sedgkan pada jenjang pendidikan menengah peserta didik (laki-laki) memakai celana panjang dan peserta didik putri boleh memakai rok dan boleh juga memakai jilbab.
Bila pserta didik berjumpa dengan peserta didik lain atau berjumpa dengan guru,kepala madrasah atau tenaga kependidikan lainnya,maka untuk di madrasah mereka akan saling mengucapkan salam (Assalamu Alaikum) .sedangkan di sekolah bisa bermacam-macam,ada selamat pagi,selamat siang,dan selamat sore dan ada pula yang saling mengucapkan salam.Di madrasah kegiatan belajar-mengajar idahului dengan ucapan salam dari sang guru atau mungkin ditambah dengan doa berbahasa Arab,demikian juga pada akhir kegiatan belajar-mengajar.Sedagkan di sekoah mungkin sebagia besar tidak demikian,karena para  guruny yng bervariasi.
Masih banyak lagi perbedaan-perbedaan antara keduanya yang dikemukakan oleh kaum simbolis,yang tidak perlu diungkap keseluruhannya dalam tulisan ini.amun yang patut disadari adalah ketika memahami perbedaan antara madrasah dan sekolah hanya sebagaimana tersebut diatas,maka akan terjebak pada pemahaman kulit luar atau lahiriah(Eksoterik) yang bersifat simbolis.sehingga ketik perbedaan-perbedaan tersebut sudah mampu diciptakan oleh sekolah sudah menjadi kabur dan bahkan hilang.Dengan demikian,untuk apa madrasah disebut sekolah berciri khas Islam bilamana tidak ada perbedaan yang subtantif antara keduanya.[8]
Sebagaimana tertuang dalam kurikulum madrasah tahun 1994,bahwa madrasah adalah sekolah umum yang berciri khas agama Islam.Ciri khas itu berbentuk: (1.) mata peljaran yang dijabarkan dari pendidikan agama Islam,yaitu: Al qur’an-hadis, Aqidah-Akhlak,Fiqih,Sejarah Kebudayaan Islam,Bahasa Arab; dan (2.) suasana keagamaannya,yang berupa,suasana kehidupan madrasah yang agamis,adanya sarana ibadah,penggunaan metode pendekatan yang agamis dalam penyajian bahan pelajaran bagi setiap mata pelajaran yang memungkinkan; dan kualifikasi guru yang harus beragama Islam dan berakhlak mulia, di samping memenuhi kualifikasi sebagai tenaga pengajar berdasar ketentuan yang berlaku.
Inti dari kebijakan tersebut , ialah bahwa pendidikan madrasah hendah dirancang dan diarahkan untuk membantu,membimbing,melatih serta mengajar dan/atau menciptakan suasana agar para peserta didik (lulusannya) menjai manusia muslim yang berkualitas dalam arti mampu mengembangkan pandangan hidup,sikap hidup dan keterampilan hidup yang berspektif Islami dalam konteks keindonesiaan.Makna pendidikan Islami sebagai aktivitas (formal dan non formal) dan sebagai fenomena atau peristiwa (informal) semuanya termuat dan perlu terkondisikan di madrasah.Pemahaman manusia berkualitas dalam khazanah pemikiran Islam sering disebut sebagai insan kamil(Zarkowi Soejoeti, 1987),yang mempunyai sifat-sifat; manusia yang selaras(jasmani-rohani,duniawi-ukhrowi),manusia moralis (sebagai individu dan sosial), manusia nadar dan i’tibar (kritis,berijtihad,dinamis,bersikap ilmiah,dan berwawasan ke depan),serta manusia yang memakmurkan bumi.[9]
Kalau kita menelaah ciri khas tersebut diatas,maka pada ciri khas yang pertama,mengandung makna bahwa pendidikan agama Islam di madrasah bukan hanya didekati secara keagamaan ,tetapi juga didekati secara keilmuan.pendekatan kegamaan mengasumsikan perlunya kajian kritis,rasional,objektif-empirik dan universal terhadap masalah keagamaan Islam.
Agaknya kedua pendekatan tersebut sulit tercipta di madrasah bilamana tidak di dukung oleh komitmen akademis-religius atau personal dan profesional religius dari para pengelola dn pembinanya.Jangan-jangan pendekatan keilmuan akan tertindih oleh pendekatan keagamaan,sehingga penjabaran mata pelajaran pendidikan agama Islam kedalam sub-sub mata pelajaran tersebut akan kehilangan makna.kalu memang demikian apa bedanya antara pendidikan agama islam yang dilakukan dimadrasah dengan non madrasah,atau dengan di masyarakat atau Mesjid atau Mushallah?kalau memang dmikian apakah tidak sebaikya pendidikan agama islam diserahkan saja kepada Masjid-Masjid atau TPA-TPQ,Majelis Ta’lim di Masjid atau Mushallah da seterusnya.Atau sebaliknya,bisa jadi pendekatan keagamaan tertindih oleh pendekatan keilmuan,sehingga pendidikan agama Islam menjadi Islamologi yang hanya menekankan intelctual exercise dan suasana keislaman tidak tercipta di madrasah.Dengan demikian gagal menjadikan madrasah sebagai sekolah yang berciri khas agama Islam.[10]
Pada ciri khas yag kedua,mengandung makna perlunya penciptaan suasana agamis di madrasah.Suasana agamis bukan hanya bermakna simbolik sebagaimana diatas ,tetapi lebih jauh dari itu berupa penanaman dan pengembangan nilai-nilai religius (keislaman) pada setiap bidang pelajaran yang termuat dalam program pendidikannya.Konsekuensinya diperlukan guru-guru yang mampu mengintegrasikan  wawasan imtaq dan iptek,diperlukan buku-buku teks yang bernuansa agamis dan bermuatan pesan-pesan agamis pada setiap bidang atau mata pelajaran yang diprogramkan.[11]





BAB III
PENUTUP
A.    Simpulan
George Makdisi memberi nama madrasah sebagai college of law.lebih lanjut ia menjelaskan bahwa isitilah madrasah diambil dari akar kata dars .Kata dars menunjuk pada mata pelajaran fikih; dan tadris,bentuk verbal noun(masdar),berarti”mengajar fiqih”.Ulama fiqih,guru besar fiqih,disebut mudarris; dan kata darasa,tanpa dilengkapi sebuah komplement,diartikan mengajarkan bidang studi fiqih.Berbeda dengan bidang studi hadis,yang diambil dari bentuk kedua dari kata haddatsa ,artinya mengajarkan pelajaran hadis.verbal noun haddatsa adalah tahdis.dalam pelajaran fikih tidak menggunakan istilah faqqaha-tafqih (dari kata fiqih),tetapi darrasa –taddris.diantara metode pngajar hadis adalah riwayah (meriwayatkan) atau imla’(mendikte).kata madrasah menunjukan tempat (isim makan) dimana bidang studi fikih di ajarkan.Madrasah sebagai lembaga pendidikan dalam bentuk pendidikan formal sudah dikenal sejak awal abad ke-11 atau 12 M,atau abad ke-5-6 H,yaitu sejak dikenal adanya madrasah Nizamiyah yang didirikan di baghdad oleh Nizam Al Mulk,yaitu seorang wasir dari Dinasti Saljuk.
Karakteristik pendidikan Islam di madrasah :
Di madrasah mata pelajaran agama Islam dibagi kedalam beberapa submata pelajaran, yaitu Al Qur’an-Hadis, Aqidah-Akhlak, Fikih, sejarah     (kebudayaan) Islam,dan bahkan ditambah dengan mata pelajaran bahasa Arab sejak MI hingga MA,sehingga porsi mata pelajaran pendidikan agama Islam lebih banyak.Sementara pada pendidikan sekolah,mata pelajaran pendidikan agama Islam digabung menjadi satu,dan prosinya hanya dua jam per minggu.Namun demikian,didalamnya pada dasarnya juga meliputi, Al Qur’an-Hadis, keimanan  (Aqidah), Akhlak, Ibadah –Syariah-Muamalah(fikih),dan sejarah(kebudayaan) Islam.
Di madrasah para peserta didiknya (putri) memakai jilbab dan peserta ddik putra memakai celana panjang,sedangkan disekolah par peserta didik putri memakai baju rok dan peserta didik (putra) memakai celana pendek untuk jenjang pendidika dasar,sedgkan pada jenjang pendidikan menengah peserta didik (laki-laki) memakai celana panjang dan peserta didik putri boleh memakai rok dan boleh juga memakai jilbab.
Bila pserta didik berjumpa dengan peserta didik lain atau berjumpa dengan guru,kepala madrasah atau tenaga kependidikan lainnya,maka untuk di madrasah mereka akan saling mengucapkan salam (Assalamu Alaikum) .sedangkan di sekolah bisa bermacam-macam,ada selamat pagi,selamat siang,dan selamat sore dan ada pula yang saling mengucapkan salam.Di madrasah kegiatan belajar-mengajar idahului dengan ucapan salam dari sang guru atau mungkin ditambah dengan doa berbahasa Arab,demikian juga pada akhir kegiatan belajar-mengajar.Sedagkan di sekoah mungkin sebagia besar tidak demikian,karena para  guruny yng bervariasi.



















DAFTAR PUSTAKA
Asrohah,Hanun.Sejarah Pendidikan Islam,Cet.1;Jakarta:Logos Wacana Ilmu,1999
Hasbullah.Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia,Ed.1;Cet.4;Jakarta: Raja Gafindo Persada ,2001
Maksum.Madrasah,Sejarah dan Perkembangannya,Cet.2;Jakarta:Logos Wacana Ilmu,1999
Muhaimin.Pemikiran dan Aktualisasi Pengembangan Pendidikan Islam,Ed.2;Jakarta: Raja Gafindo Persada,2012
Muhaimin.Wacana Pengembangan Pendidikan Islam,Cet.2;Surabaya:Pustaka Pelajar,2004
Rachman Shaleh,Abdu.Madrasah dan Pendidikan Anak Bangsa,Ed.2;Jakarta:Raja Gafindo Persada,2006




[1]Drs.Hasbullah,Sejarah Penddikan Islam di Indonesia,Ed I (Cet.4;Jakarta:PT.Raja Gafindo Persada,2001),h.160
[2]Hanun Asrohah,M.Ag,Sejarah Pendidikan Islam,(Cet.1;Jakarta,PT.Logos Wacana Ilmu,1999),h.102
[3]Abdul Rachman Shaleh,Madrasah dan Pendidikan Anak bangsa,(Cet.2;Jakarta:PT.Raja Gafindo Persada,2006,h.11

[4]DR.H.Maksum,Madrasah,Sejarah dan Perkembangannya,(Cet,2;Jakarta:Logos Wacana Ilmu,1999),h.60
[5]Ibid.,h.61
[6]Drs.Hasbullah,Op.Cit.,h.161-162
[7]Dr.Muhaimin,M.A,Wacana Pengembangan Pendidikan Islam,(Cet,2;Surabaya,Pustaka Pelajar,2004),h.175
[8]Prof.Dr.H.Muhaimin,M.A,Pemikiran dan Aktualisasi Pengembangan Pendidikan Islam,(Ed.2;Jakarta:PT.Raja Gafindo Persada,2012),h.116-118
[9]Dr.Muhaimin,M.A,Op.Cit.,h.178-179
[10]Ibid.,h.180
[11]Ibid.,h.181

Tidak ada komentar:

Posting Komentar