TELAAH
KRITIS TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM DI MADRASAH (ASAL-USUL DAN SEJARAH MADRASAH SERTA
KARAKTERISTIK PENDIDIKAN ISLAM DI MADRASAH)
![]() |
Makalah
ini diajukan sebagai salah satu syarat memenuhi tugas mata kuliah Pemikiran Pendidikan Islam Program
Studi Manajemen Pendidikan Islam
Jurusan
Tarbiyah STAIN
Watampone
Oleh
HAIRUL
02123108
NURHAENAH
N.
02123116
SEKOLAH
TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI(STAIN)
WATAMPONE
2014
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Madrasah
adalah salah satu bentuk kelembagaan pendidikan Islam yang memiliki sejarah
sangat panjang.Pendidikan Islam itu sendiri dalam pengertian umum dapat
dikatakan muncul dan berkembang seiring dengan kemunculan Islam itu sendiri;
yakni berawal dari pendidikan yang bersifat informal berupa dakwah islamiyah
untuk menyebarkan Islam,terutama dalam hal yang berkaitan dengan aqidah.Pada
masa ini berlangsung pendidikan Islam yang diselenggarakan dirumah-rumah yang
dikenal dengan Dar al-arqam.Kemudian,seiring
dengan perkembangan Islam dan terbentuknya masyarakat islam,pendidikan Islam
diselenggarakan di dalam mesjid-mesjid yang dikenal dengan bentuk halaqah.Kebangkitan madrasah merupakan
awal dari bentuk pelembagaan pendidikan Islam secara formal.
Madrasah
muncul sebagai lembaga pendidikan di dunia pendidikan sejak abad ke-11 masehi
dan telah tumbuh dan berkembang pada masa kejayaan pendidikan Islam.Diantaranya
yang terkenal adalah madrasah yang dibangun oleh Perdana Menteri Nizamul Mulk
yang populer dengan nama Madrasah Nizamiyah,demikian juga madrasah yang
dibangun oleh Zainuddin Zinki penguasa Syiria dan Mesir.Pada abad
pertengahan,madrasah dipandang sebagai lembaga pendidikan Islam par exellenceI I,menjadi trend hampir
disemua wilayah kekuasaan Islam.
Namun,penting
untuk diperhatikan bahwa suatu ciri lain pendidikan madrasah adalah pembinaan
jiwa agama dan akhlak anak didik.Inilah yang menjadi identitas sebenarnya dari
pendidikan madrasah yang perlu diperhatikan oleh para pengelolah dan guru
lembaga pendidikan Islam itu.Pendidikan dan pengajaran dalam madrasah harus
diarahkan kepada pembinaan keyakinan agama,sehingga hidupnya selalu berpedoman
kepada ajaran Islam.Di samping itu, perlu disadari bahwa tujuan hidup seorang
muslim adalah bahagia di dunia,bahagia di akhirat nanti,dan terhindar dari
segala dosa yang akan membawa kepada kemurkaan ALLAH SWT.
Berdasarkan
latar belakang di atas maka dapat dirumuskan rumusan masalah sebagai berikut :
B.
Rumusan
Masalah
1. Bagaimanakah asal-usul dan sejarah lahirnya
Madrasah ?
2. Bagaimanakah karakteristik pendidikan
Islam di Madrasah ?
C.
Tujuan
Penulisan
1. Untuk mengetahui asal-usul dan sejarah
lahirnya Madrasah.
2. Untuk mengetahui karakteristik
pendidikan Islam di Madrasah.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Asal-usul dan sejarah lahirnya Madrasah
Madrasah adalah
isim makan dari kata “darasa” yang berarti “duduk untuk belajar”Istilah
madrasah sekarang telah menyatu dengan istilah sekolah atau perguruan(terutama
perguruan tinggi).[1]
George Makdisi memberi
nama madrasah sebagai college of law.lebih
lanjut ia menjelaskan bahwa isitilah madrasah diambil dari akar kata dars .Kata dars menunjuk pada mata pelajaran fikih; dan tadris,bentuk verbal noun(masdar),berarti”mengajar
fiqih”.Ulama fiqih,guru besar fiqih,disebut mudarris;
dan kata darasa,tanpa dilengkapi
sebuah komplement,diartikan mengajarkan bidang studi fiqih.Berbeda dengan
bidang studi hadis,yang diambil dari bentuk kedua dari kata haddatsa ,artinya mengajarkan pelajaran
hadis.verbal noun haddatsa adalah
tahdis.dalam pelajaran fikih tidak menggunakan istilah faqqaha-tafqih (dari kata fiqih),tetpi darrasa –taddris.diantara metode pengajar hadis adalah riwayah
(meriwayatkan) atau imla’(mendikte).kata
madrasah menunjukan tempat (isim makan) dimana bidang studi fikih di ajarkan.[2]
Madrasah sebagai
lembaga pendidikan dalam bentuk pendidikan formal sudah dikenal sejak awal abad
ke-11 atau 12 M,atau abad ke-5-6 H,yaitu sejak dikenal adanya madrasah
Nizamiyah yang didirikan di baghdad oleh Nizam Al Mulk,yaitu seorang wasir dari
Dinasti Saljuk.[3]Banyak
pula penulis kontemporer menyimpulkan demikian,termasuk Ahmad Syalabi.Muhammad
Abd Rahim dalam karyanya Al-jami’ah al- Islamiyah
al-kubra bahkan menyatakan bahwa
kata Madrasah belum dijumpai pada sumber-sumber sejarah hingga kira-kira akhir
abad ke-4 Masehi.Akan tetapi,banyak bukti yag signifikan justru menunjukkan
bahwa madarasah telah berdiri sejak abad
keempat Hijriyah dan dihubungkan dengan penduduk Naisabur.[4]Namun
demikian,tidak dapat disangkal bahwa pengaruh madrasah Nizamiyah melampui
pengaruh madrasah-madrasah yang didirikan sebelumnya.Ahmad Syalabi,misalnya,menjadikan
pendirian Madrasah Nizamiyah sebagai pembatas,untuk membedakannya dengan era
pendidikan Islam sebelumnya.Era baru itu ialah pada adanya ketentuan-ketentuan
yang lebih jelas yang berkaitan dengan komponen-komponen pndidikan dan pada
keterlibatan pemerintah dalam pengelolaan Madrasah.Madrasah Nizamiyah merupakan
lembaga pendidikan resmi dan pemerintah terlibat dalam menetapkan tujuan-tujuan
yang teratur pada madrasah.Madrasah merupakan lembaga resmi dari pemerintah
yang menghasilkan karyawan-karyawan dan pegawai-pegawai pemerintah.[5]
Pada saat Islam telah
berkembang secara luas dalam berbagai macam ilmu pengetahan,dengan berbagai
macam aliran atau mazha pemikirannya.perbandingan ilmu pengetahuan
tersebut,bukan hanya meliputi ilmu-ilmu yang berhubungan Al qur’an dan
Hadis,seperti ilmu-ilmu Al qur’an,Hadis,Fiqih,ilmu kalam,maupun ilm tasawuf,tetapi
juga bidang-bidang ilmu filsafat,astronomi,kedokteran,matematikadan berbagai
bidang ilmu-ilmu alam dan kemasyarakatan.
Meskipun madrasah
sebagai lembaga pendidikan dan pengajaran di dunia Islam baru timbul sekitar
abad ke-5 H tidak berarti bahwa sejak awal perkembangannya,Islam tidak
mempunyai lembaga pendidikan dan pengajaran.Islam datang dan mewarisi dari
masyarakat bangsa Arab pada masa itu,ternyata jauh sebelum itu,yaitu pada zaman
pemerintahan Bani Umayyah,umat Islam sudah mempunyai semacam lembaga pendidikan
Islam yang disebut”Kuttab”.Para guru yang mengajar pada Kuttab ini pada mulanya
adalah orang-orang nonmuslimin,terutama orang-orang Yahudi dan Nasrani.Karena
itulah pada pengajaran Kuttab itu,oleh umat Islam hanya sebagai tempat belajar
keterampilan membaca dan menulis saja,sedangkan
untuk pengajaran Al qur’an dan dasar agama Islam diberikan dan diajarkan di
Mesjid-Mesjid oleh para guru khusus.Selanjutnya untuk kepentingan pengajaran
menulis dan membaca bagi anak-anak,yang sekaligus juga memberikan pengajaran Al
qur’an dan dasar-dasar pengetahuan agama Islam,maka diadakanlah Kuttab-Kuttab
yang terpisah dari mesjid agar anak-anak tidak mengganggu ketenangan dan
kebersihan mesjid.
Berdasarkan kenyataan
tersebut,bahwa pada awal perkembngan pendidikan Islam,telah terdapat dua jenis
lembaga pendidikan dan pengajaran,yaitu Kuttab,yang mengajarkan kecakapan
menulis dan membaca Al qur.an serta dasar-dasar agama Islam kepada anak-anak,dan
merupakan pendidikan tingkat dasar.Sedangkan mesjid,dalam bentuk halaqah,yang
memberikan pendidikan dan pengajaran tentang berbagai macam ilmu pengetahun
masa itu,dan merupakan tingkat pendidikan lebih lanjut.
Berasal dari
halaqah-halaqah mesjid inilah yang kemudian melahirkan ulama-ulama besar dalam
berbagai bidang ilmu pengetahuan agama Islam,dan dari sini pula timbulnya Mazhab
atau aliran dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan,yang pada saat itu dikenal
dengan istilah”Madarasah”.Melalui halaqah ini para ulama dari berbagai mazhab
mengembangkan ajaran-ajarannya.Berbagai cabang ilmu pengetahuan yang berkembang
pada masa itu diajarkan di Mesjid.Mesjid pada masa itu adalah sebagai lembaga
pendidikan dan pengajaran yang utama dalam dunia Islam.[6]
B.
Karakteristik
Pendidikan Islam di Madrasah
Pengembangan pendidikan
maadrasah tampaknya tidak dapat ditangani secara parsial atau setengah-setengah,tetapi
memerlukan pemikiran pengembangan yang utuh sebagai konsekuensi dari
identitasnya sebagai sekolah umum yang berciri khas agama Islam.terutama ketika
dihadapkan pada kebijakan pembangunan nasional bidang pendidikan yang
menekankan pada peningkatan kualitas SDM.[7]Madrasah
sebagai lembaga pendidikan yang berciri khas Islam tentu memiliki ciri khusus dibandingkan
dengan sekolah,yang jelas perbedaan antara keduanya adalah kalau madrasah
adalah sekolah umum yang berciri khas agama Islam,sedangkan sekolah adalah
tidak demikian.Para kaum simbolik menjwab pertanyaan tersebut dengan
jawaban-jawaban berikut :
Di madrasah mata
pelajaran agama Islam dibagi kedalam beberapa submata pelajaran, yaitu Al
Qur’an-Hadis, Aqidah-Akhlak, Fikih, sejarah
(kebudayaan) Islam,dan bahkan
ditambah dengan mata pelajaran bahasa Arab sejak MI hingga MA,sehingga porsi
mata pelajaran pendidikan agama Islam lebih banyak.Sementara pada pendidikan
sekolah,mata pelajaran pendidikan agama Islam digabung menjadi satu,dan
prosinya hanya dua jam per minggu.Namun demikian,didalamnya pada dasarnya juga
meliputi, Al Qur’an-Hadis, keimanan (Aqidah),
Akhlak, Ibadah –Syariah-Muamalah(fikih),dan sejarah(kebudayaan) Islam.
Di madrasah para
peserta didiknya (putri) memakai jilbab dan peserta ddik putra memakai celana
panjang,sedangkan disekolah par peserta didik putri memakai baju rok dan
peserta didik (putra) memakai celana pendek untuk jenjang pendidika
dasar,sedgkan pada jenjang pendidikan menengah peserta didik (laki-laki)
memakai celana panjang dan peserta didik putri boleh memakai rok dan boleh juga
memakai jilbab.
Bila pserta didik
berjumpa dengan peserta didik lain atau berjumpa dengan guru,kepala madrasah
atau tenaga kependidikan lainnya,maka untuk di madrasah mereka akan saling
mengucapkan salam (Assalamu Alaikum)
.sedangkan di sekolah bisa bermacam-macam,ada selamat pagi,selamat siang,dan
selamat sore dan ada pula yang saling mengucapkan salam.Di madrasah kegiatan
belajar-mengajar idahului dengan ucapan salam dari sang guru atau mungkin
ditambah dengan doa berbahasa Arab,demikian juga pada akhir kegiatan
belajar-mengajar.Sedagkan di sekoah mungkin sebagia besar tidak demikian,karena
para guruny yng bervariasi.
Masih banyak lagi
perbedaan-perbedaan antara keduanya yang dikemukakan oleh kaum simbolis,yang
tidak perlu diungkap keseluruhannya dalam tulisan ini.amun yang patut disadari
adalah ketika memahami perbedaan antara madrasah dan sekolah hanya sebagaimana
tersebut diatas,maka akan terjebak pada pemahaman kulit luar atau
lahiriah(Eksoterik) yang bersifat simbolis.sehingga ketik perbedaan-perbedaan
tersebut sudah mampu diciptakan oleh sekolah sudah menjadi kabur dan bahkan
hilang.Dengan demikian,untuk apa madrasah disebut sekolah berciri khas Islam
bilamana tidak ada perbedaan yang subtantif antara keduanya.[8]
Sebagaimana tertuang
dalam kurikulum madrasah tahun 1994,bahwa madrasah adalah sekolah umum yang
berciri khas agama Islam.Ciri khas itu berbentuk: (1.) mata peljaran yang
dijabarkan dari pendidikan agama Islam,yaitu: Al qur’an-hadis,
Aqidah-Akhlak,Fiqih,Sejarah Kebudayaan Islam,Bahasa Arab; dan (2.) suasana
keagamaannya,yang berupa,suasana kehidupan madrasah yang agamis,adanya sarana
ibadah,penggunaan metode pendekatan yang agamis dalam penyajian bahan pelajaran
bagi setiap mata pelajaran yang memungkinkan; dan kualifikasi guru yang harus
beragama Islam dan berakhlak mulia, di samping memenuhi kualifikasi sebagai
tenaga pengajar berdasar ketentuan yang berlaku.
Inti dari kebijakan
tersebut , ialah bahwa pendidikan madrasah hendah dirancang dan diarahkan untuk
membantu,membimbing,melatih serta mengajar dan/atau menciptakan suasana agar
para peserta didik (lulusannya) menjai manusia muslim yang berkualitas dalam
arti mampu mengembangkan pandangan hidup,sikap hidup dan keterampilan hidup
yang berspektif Islami dalam konteks keindonesiaan.Makna pendidikan Islami
sebagai aktivitas (formal dan non formal) dan sebagai fenomena atau peristiwa (informal)
semuanya termuat dan perlu terkondisikan di madrasah.Pemahaman manusia
berkualitas dalam khazanah pemikiran Islam sering disebut sebagai insan kamil(Zarkowi Soejoeti, 1987),yang
mempunyai sifat-sifat; manusia yang selaras(jasmani-rohani,duniawi-ukhrowi),manusia
moralis (sebagai individu dan sosial), manusia nadar dan i’tibar (kritis,berijtihad,dinamis,bersikap ilmiah,dan
berwawasan ke depan),serta manusia yang memakmurkan bumi.[9]
Kalau kita menelaah
ciri khas tersebut diatas,maka pada ciri khas yang pertama,mengandung makna
bahwa pendidikan agama Islam di madrasah bukan hanya didekati secara keagamaan
,tetapi juga didekati secara keilmuan.pendekatan kegamaan mengasumsikan
perlunya kajian kritis,rasional,objektif-empirik dan universal terhadap masalah
keagamaan Islam.
Agaknya kedua
pendekatan tersebut sulit tercipta di madrasah bilamana tidak di dukung oleh
komitmen akademis-religius atau personal dan profesional religius dari para
pengelola dn pembinanya.Jangan-jangan pendekatan keilmuan akan tertindih oleh
pendekatan keagamaan,sehingga penjabaran mata pelajaran pendidikan agama Islam
kedalam sub-sub mata pelajaran tersebut akan kehilangan makna.kalu memang
demikian apa bedanya antara pendidikan agama islam yang dilakukan dimadrasah
dengan non madrasah,atau dengan di masyarakat atau Mesjid atau Mushallah?kalau
memang dmikian apakah tidak sebaikya pendidikan agama islam diserahkan saja
kepada Masjid-Masjid atau TPA-TPQ,Majelis Ta’lim di Masjid atau Mushallah da
seterusnya.Atau sebaliknya,bisa jadi pendekatan keagamaan tertindih oleh
pendekatan keilmuan,sehingga pendidikan agama Islam menjadi Islamologi yang
hanya menekankan intelctual exercise
dan suasana keislaman tidak tercipta di madrasah.Dengan demikian gagal
menjadikan madrasah sebagai sekolah yang berciri khas agama Islam.[10]
Pada ciri khas yag
kedua,mengandung makna perlunya penciptaan suasana agamis di madrasah.Suasana
agamis bukan hanya bermakna simbolik sebagaimana diatas ,tetapi lebih jauh dari
itu berupa penanaman dan pengembangan nilai-nilai religius (keislaman) pada
setiap bidang pelajaran yang termuat dalam program pendidikannya.Konsekuensinya
diperlukan guru-guru yang mampu mengintegrasikan wawasan imtaq dan iptek,diperlukan buku-buku
teks yang bernuansa agamis dan bermuatan pesan-pesan agamis pada setiap bidang
atau mata pelajaran yang diprogramkan.[11]
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
George Makdisi memberi
nama madrasah sebagai college of law.lebih
lanjut ia menjelaskan bahwa isitilah madrasah diambil dari akar kata dars .Kata dars menunjuk pada mata
pelajaran fikih; dan tadris,bentuk verbal noun(masdar),berarti”mengajar
fiqih”.Ulama fiqih,guru besar fiqih,disebut mudarris;
dan kata darasa,tanpa dilengkapi
sebuah komplement,diartikan mengajarkan bidang studi fiqih.Berbeda dengan
bidang studi hadis,yang diambil dari bentuk kedua dari kata haddatsa ,artinya mengajarkan pelajaran
hadis.verbal noun haddatsa adalah
tahdis.dalam pelajaran fikih tidak menggunakan istilah faqqaha-tafqih (dari kata fiqih),tetapi darrasa –taddris.diantara metode pngajar hadis adalah riwayah
(meriwayatkan) atau imla’(mendikte).kata
madrasah menunjukan tempat (isim makan) dimana bidang studi fikih di ajarkan.Madrasah
sebagai lembaga pendidikan dalam bentuk pendidikan formal sudah dikenal sejak
awal abad ke-11 atau 12 M,atau abad ke-5-6 H,yaitu sejak dikenal adanya
madrasah Nizamiyah yang didirikan di baghdad oleh Nizam Al Mulk,yaitu seorang
wasir dari Dinasti Saljuk.
Karakteristik
pendidikan Islam di madrasah :
Di madrasah mata
pelajaran agama Islam dibagi kedalam beberapa submata pelajaran, yaitu Al
Qur’an-Hadis, Aqidah-Akhlak, Fikih, sejarah
(kebudayaan) Islam,dan bahkan ditambah dengan mata pelajaran bahasa Arab
sejak MI hingga MA,sehingga porsi mata pelajaran pendidikan agama Islam lebih
banyak.Sementara pada pendidikan sekolah,mata pelajaran pendidikan agama Islam
digabung menjadi satu,dan prosinya hanya dua jam per minggu.Namun
demikian,didalamnya pada dasarnya juga meliputi, Al Qur’an-Hadis, keimanan (Aqidah), Akhlak, Ibadah
–Syariah-Muamalah(fikih),dan sejarah(kebudayaan) Islam.
Di madrasah para
peserta didiknya (putri) memakai jilbab dan peserta ddik putra memakai celana
panjang,sedangkan disekolah par peserta didik putri memakai baju rok dan
peserta didik (putra) memakai celana pendek untuk jenjang pendidika
dasar,sedgkan pada jenjang pendidikan menengah peserta didik (laki-laki)
memakai celana panjang dan peserta didik putri boleh memakai rok dan boleh juga
memakai jilbab.
Bila pserta didik
berjumpa dengan peserta didik lain atau berjumpa dengan guru,kepala madrasah
atau tenaga kependidikan lainnya,maka untuk di madrasah mereka akan saling
mengucapkan salam (Assalamu Alaikum)
.sedangkan di sekolah bisa bermacam-macam,ada selamat pagi,selamat siang,dan
selamat sore dan ada pula yang saling mengucapkan salam.Di madrasah kegiatan
belajar-mengajar idahului dengan ucapan salam dari sang guru atau mungkin
ditambah dengan doa berbahasa Arab,demikian juga pada akhir kegiatan
belajar-mengajar.Sedagkan di sekoah mungkin sebagia besar tidak demikian,karena
para guruny yng bervariasi.
DAFTAR PUSTAKA
Asrohah,Hanun.Sejarah Pendidikan Islam,Cet.1;Jakarta:Logos Wacana Ilmu,1999
Hasbullah.Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia,Ed.1;Cet.4;Jakarta: Raja Gafindo Persada ,2001
Maksum.Madrasah,Sejarah dan Perkembangannya,Cet.2;Jakarta:Logos Wacana
Ilmu,1999
Muhaimin.Pemikiran dan Aktualisasi Pengembangan
Pendidikan Islam,Ed.2;Jakarta: Raja Gafindo Persada,2012
Muhaimin.Wacana Pengembangan Pendidikan Islam,Cet.2;Surabaya:Pustaka Pelajar,2004
Rachman Shaleh,Abdu.Madrasah dan Pendidikan Anak Bangsa,Ed.2;Jakarta:Raja
Gafindo Persada,2006
[1]Drs.Hasbullah,Sejarah Penddikan
Islam di Indonesia,Ed I (Cet.4;Jakarta:PT.Raja Gafindo Persada,2001),h.160
[2]Hanun Asrohah,M.Ag,Sejarah
Pendidikan Islam,(Cet.1;Jakarta,PT.Logos Wacana Ilmu,1999),h.102
[3]Abdul Rachman Shaleh,Madrasah dan
Pendidikan Anak bangsa,(Cet.2;Jakarta:PT.Raja Gafindo Persada,2006,h.11
[4]DR.H.Maksum,Madrasah,Sejarah dan
Perkembangannya,(Cet,2;Jakarta:Logos Wacana Ilmu,1999),h.60
[6]Drs.Hasbullah,Op.Cit.,h.161-162
[7]Dr.Muhaimin,M.A,Wacana
Pengembangan Pendidikan Islam,(Cet,2;Surabaya,Pustaka Pelajar,2004),h.175
[8]Prof.Dr.H.Muhaimin,M.A,Pemikiran
dan Aktualisasi Pengembangan Pendidikan Islam,(Ed.2;Jakarta:PT.Raja Gafindo
Persada,2012),h.116-118
[9]Dr.Muhaimin,M.A,Op.Cit.,h.178-179
[10]Ibid.,h.180
[11]Ibid.,h.181

Tidak ada komentar:
Posting Komentar